Dari Tidak Bisa Menjadi Bisa
Dulu, aku tidak pernah berpikir akan sejauh ini. Bahkan untuk bermimpi pun aku ragu. Aku yang dulu, sebelum tahun 2019, merasa bahwa hidupku datar-datar saja. Tidak ada hal istimewa, tidak ada hal besar yang bisa kubanggakan. Aku menjalani hari demi hari seperti air mengalir, tanpa arah yang jelas, tanpa tujuan yang kuketahui pasti.
Hari-hari pertama terasa sangat berat. Aku merasa seperti anak kecil yang dilempar ke tengah kota besar, bingung harus ke mana. Dosen berbicara dengan istilah yang belum pernah kudengar, teman-teman tampak jauh lebih cerdas dan percaya diri, sedangkan aku... hanya bisa diam, mengamati, dan berharap waktu berlalu cepat.
Ada momen-momen saat aku benar-benar merasa tidak berguna. Aku pernah gagal dalam tugas, tidak bisa mengikuti pelajaran, dan merasa malu setiap kali harus berbicara di depan kelas. Aku bertanya-tanya, “Apakah aku memang pantas di sini? Apakah aku bisa bertahan sampai akhir?”
Namun dari semua keraguan itu, aku mulai menemukan celah kecil untuk tumbuh. Pelan-pelan aku belajar memahami ritme kampus, mengenali orang-orang, dan lebih mengenal diriku sendiri. Aku belajar bahwa aku tidak harus sempurna. Aku hanya perlu mencoba. Dari tidak bisa menjadi bisa, dari takut menjadi terbiasa, semua proses itu memerlukan waktu dan aku belajar untuk sabar menjalaninya.
Tahun demi tahun pun berlalu. Dari semester satu, dua, hingga kini aku hampir berada di penghujung perjalanan kuliah. Dan ketika aku menoleh ke belakang, aku nyaris tak percaya: aku yang dulu bahkan tidak berani bermimpi, kini sedang berdiri di tempat yang dulu hanya bisa kulihat dari kejauhan.
Aku mulai terbiasa mengerjakan hal-hal yang dulu membuatku takut. Aku bisa menyampaikan pendapat, menyusun makalah, bahkan memimpin diskusi. Aku mulai merasakan bahwa diriku memiliki kemampuan. Bukan karena tiba-tiba menjadi hebat, tapi karena aku terus berusaha dan tidak menyerah saat gagal.
Adaptasi memang tidak instan. Tapi dari proses itulah aku belajar bahwa setiap orang punya waktunya sendiri untuk berkembang. Aku belajar memaafkan diri atas kesalahan, belajar menghargai proses, dan yang paling penting belajar mencintai diriku sendiri.
Kini, tahun 2025, aku bisa berkata: aku bangga pada diriku sendiri. Perjalanan ini belum berakhir, tapi aku bersyukur pernah melewati masa-masa sulit itu. Karena dari situlah, aku tumbuh. Aku menjadi versi diriku yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih percaya bahwa aku bisa.
Untuk kamu yang sedang berada di titik awal, atau mungkin sedang merasa tidak mampu—percaya lah, kamu hanya sedang dalam proses. Tidak ada yang instan. Tapi saat kamu bertahan, kamu akan lihat bahwa semua akan berubah. Dan saat itu datang, kamu akan tersenyum pada dirimu sendiri sambil berkata: “Ternyata aku bisa.”
Motivasi : "Jangan pernah meremehkan awal yang sederhana. Dari situlah langkah besar bermula."
.png)

"Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di blog Mas Banjar!
Komentarmu jadi semangat baru untuk terus berbagi cerita dan inspirasi. 🙏😊"