Perjalanan Hidup Mas Banjar Kuliah Sambil Ojol, Tidur di Mana Aja, Demi Cita-Cita

Mas Banjar
0


🚀 Perjalanan Hidup Mas Banjar

Kuliah Sambil Ojol, Tidur di Mana Aja, Demi Cita-Cita

Tahun 2019 menjadi salah satu titik balik kehidupan saya. Di saat orang lain mungkin menjalani hari-harinya dengan stabil dan normal, saya justru berada di titik penuh tantangan.

Saat itu, saya memulai kuliah tanpa ngekos, tanpa kendaraan pribadi yang mumpuni, tanpa fasilitas mewah, hanya berbekal semangat, doa, dan harapan akan masa depan.

Saya, Mas Banjar, mencoba menjalani dua peran besar dalam hidup: sebagai mahasiswa baru, dan sekaligus sebagai driver ojek online dan pengantar makanan melalui aplikasi Maxcim, salah satu aplikasi lokal yang pada waktu itu cukup membantu para pekerja lapangan seperti saya.

🌙 Hidup Malam, Kuliah Siang

Setiap pagi hingga siang, saya mengenakan tas kuliah, berangkat ke kampus dengan semangat. Tapi berbeda dari kebanyakan mahasiswa lain, saya tidak bisa langsung pulang ke kamar kost untuk beristirahat atau belajar.
Kenapa? Karena saya tidak punya kost sendiri.

Di awal kuliah itu, saya hanya menumpang tidur di kost teman, itupun jika kondisi memungkinkan. Lebih seringnya saya tidur di luar, di emperan pinggir taman, trotoar, masjid, bahkan stasiun pengisian bensin, sambil menunggu orderan masuk.

Yang lebih beratnya lagi, orang tua saya tidak mengetahui bahwa saya menjalani kuliah tanpa kost tetap. Mereka mengira saya tinggal nyaman di tempat kost layaknya mahasiswa lainnya. Padahal, saya lebih banyak tidur di luar atau menumpang di mesjid dan mandi-pun mesjid pula. Saya menyembunyikan kenyataan ini karena saya tidak ingin membuat mereka khawatir.

Saya juga tidak memberitahukan kepada orang tua saya bahwa saya bekerja sebagai driver ojol Maxcim. Baru di tahun 2025, mama saya menyadari bahwa jaket yang sering saya bawa kerja selama ini adalah jaket ojol Maxcim, setelah melihat video di TikTok tentang ciri khas jaket tersebut. Mama saya hanya berkata lirih, "Ternyata selama ini kamu kerja ojol, Nak?"

Setelah kuliah selesai, saya langsung mengganti jaket kampus dengan jaket driver, membuka aplikasi Maxcim, dan mulai "menjemput rezeki" dari sore hingga jam pertengahan malam, bahkan terkadang lewat tengah malam. Entah itu mengantar makanan, minuman, atau menjemput penumpang.

Napas saya di malam hari hanyalah suara notifikasi dari aplikasi ojol. Hal lucunya adalah ketika ada notif orderan muncul, saya kegirangan seakan orang yang tak tau malu loncat-loncat saking bahagianya mendapatkan orderan.

Saya memang tidak memiliki fasilitas mewah seperti kendaraan baru atau tempat tinggal tetap. Tapi Alhamdulillah, saya memiliki sepeda motor bekas yang saya beli dengan harga Rp8 juta (ngutang ke Orang Tua).
Motor itu mungkin tak sempurna, tapi cukup untuk saya mencari rezeki, menembus malam, menaklukkan hujan, dan menjadi saksi perjalanan panjang yang penuh makna.

Pada tahun 2019, menjadi driver Maxcim bukanlah hal yang umum. Jumlah driver Maxcim masih sangat sedikit di wilayah Banjarbaru, Martapura, dan sekitarnya. Saya termasuk di antara pengguna awal Maxcim, dan akun saya adalah salah satu yang pertama aktif di daerah tersebut. Saat itu, orderan juga sangat sulit didapat karena pengguna aplikasi Maxcim, baik pembeli maupun driver, masih sangat terbatas. Jauh berbeda dengan sekarang, di mana jumlah driver Maxcim sudah sangat banyak dan aplikasinya telah dikenal luas oleh masyarakat Banjarbaru dan Martapura.

📚 Kuliah Sabtu-Minggu, Bekerja Senin-Jum'at

Selain ngojol dan kuliah, saya juga aktif bekerja penuh waktu di dunia pendidikan.
Senin hingga Jum'at, saya bekerja di tiga tempat sekaligus, yaitu:

  • SMP IT Hidayatullah Asam-Asam, dan

  • UPTD SD Negeri 7 Asam-Asam

  • TK/TPA Al-Muhajirin Unit 372

Setiap harinya saya membagi waktu, tenaga, dan pikiran untuk kedua sekolah tersebut.
Kemudian, setiap Jum'at sore setelah sholat Jum'at, saya langsung berangkat kuliah dari kampung halaman saya di Desa Simpang Empat, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut, menuju ke Martapura untuk menuntut ilmu di Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Martapura.

Saya kuliah setiap Sabtu dan Minggu, dan kembali ke tempat kerja pada Minggu malam atau Senin dini hari. Semua saya jalani demi bisa menggapai cita-cita meski lelah dan waktu istirahat begitu minim.

😷 Saat Dunia Berubah: Pandemi Datang

Awal tahun 2020, dunia mulai berubah. Virus Corona masuk ke Indonesia, dan semuanya seakan menjadi lebih berat. Orderan ojol berkurang drastis, kampus pun mulai menerapkan sistem belajar daring.
Tapi satu hal yang tidak berubah adalah: semangat saya untuk bertahan.

Saya tetap ngojek, meski penghasilan jauh menurun. Saya tetap ikut kelas online, meski kadang harus numpang WiFi di warung kopi. Saya tetap mengerjakan tugas kuliah, meski mata mengantuk karena semalaman di jalan.

🥲 Rasa Lelah yang Tak Pernah Ditunjukkan

Satu hal yang selalu saya jaga adalah sikap ceria dan rasa syukur. Di depan teman-teman kuliah, saya berusaha tetap tersenyum. Mereka tidak tahu kalau malam sebelumnya saya tidur beralas tas di parkiran masjid. Mereka tidak tahu kalau sepatu saya sering basah kehujanan saat ngantar orderan makanan.

Tapi semua itu saya jalani dengan ikhlas. Karena saya percaya: tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Saya percaya bahwa Tuhan akan membukakan jalan bagi siapa pun yang berusaha sungguh-sungguh.

🎓 Akhirnya Lulus

Setelah melewati tahun-tahun berat itu, akhir tahun 2023 saya lulus kuliah. Mungkin saya tidak lulus dengan nilai tertinggi, atau dengan prestasi yang diumumkan di depan panggung. Tapi saya lulus dengan harga diri yang utuh dan cerita perjuangan yang tidak bisa dibeli siapa pun.

Saya bisa bangga berkata bahwa saya tidak menyusahkan orang lain. Saya kuliah dengan biaya sendiri, kerja keras sendiri, dan tekad yang lahir dari dalam hati sendiri.

📍 Penutup: Hidup Adalah Perjalanan

Kini, saya menulis cerita ini bukan untuk pamer. Tapi untuk mengingatkan—terutama kepada siapa pun yang sedang lelah berjuang—bahwa kita semua punya jalan masing-masing.
Ada yang jalannya mulus, ada yang berlubang, ada pula yang seperti saya: berliku, gelap, dan berangin.

Tapi percayalah, selama kita tidak berhenti melangkah, kita pasti sampai.

Saya, Mas Banjar, masih berjalan. Dan saya tidak akan berhenti.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

"Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di blog Mas Banjar!
Komentarmu jadi semangat baru untuk terus berbagi cerita dan inspirasi. 🙏😊"

Posting Komentar (0)