Antara Tuduhan dan Tanda Sayang

Mas Banjar
0

 

“Antara Tuduhan dan Tanda Sayang”

Aku sering mendengar kalimat itu lagi.

“Kamu tidak sayang.”
“Kamu tidak peduli.”
“Kamu yang menjauh.”

Lalu ketika aku mencoba menjelaskan, ia berkata,
“Aku begini karena aku sayang. Kalau aku tidak sayang, aku tidak akan marah.”

Aku terdiam.

Benarkah tudingan itu tanda cinta?
Benarkah kemarahan dan kecurigaan adalah bukti kepedulian?

Aku mencoba memahami dari sudut pandangnya. Mungkin rasa takut kehilangan membuatnya sensitif. Mungkin harapannya besar, sehingga ketika aku terlambat memberi kabar, ia merasa diabaikan. Mungkin diamku memunculkan kecemasan dalam pikirannya.

Jika begitu, ya… mungkin itu memang lahir dari rasa sayang.

Tetapi aku juga belajar satu hal:
Cinta yang sehat tidak hanya tentang rasa takut kehilangan, tetapi juga tentang kepercayaan.

Aku tidak pernah lupa memberi kabar karena tidak peduli. Aku hanya terlalu fokus bekerja. Saat aku bekerja, pikiranku penuh dengan tanggung jawab, target, dan kewajiban. Konsentrasiku menyempit. Waktu terasa cepat. Dan tanpa sadar, mengirim pesan sederhana menjadi hal yang terlewati.

Namun di dalam benakku, dia tetap ada.

Saat aku ingin cepat menyelesaikan pekerjaan, itu karena aku ingin punya waktu lebih untuknya. Saat aku memikirkan masa depan, itu karena aku ingin hubungan ini memiliki arah dan kepastian. Semua yang kulakukan bukan untuk menjauh, melainkan untuk membangun.

Sayangnya, yang terlihat olehnya hanyalah keheningan.

Ia melihat pesan yang terlambat dibalas.
Ia merasakan jeda yang menurutnya terlalu lama.
Dan dari sana tumbuh asumsi.

Ketika ia berkata bahwa tudingannya adalah tanda sayang, aku mencoba merenung. Mungkin benar, di balik kemarahan itu ada rasa peduli. Di balik protes itu ada harapan agar aku lebih perhatian.

Tetapi menurutku, sayang bukan hanya tentang menuntut perhatian. Sayang juga tentang memahami kondisi pasangan. Tentang memberi ruang saat ia sedang fokus. Tentang tidak terburu-buru menilai sebelum mendengar penjelasan.

Cinta yang dewasa bukan hanya emosional, tetapi juga rasional.
Bukan hanya merasa, tetapi juga mengerti.
Bukan hanya ingin dipahami, tetapi juga mau memahami.

Aku tidak menyangkal kekuranganku. Aku memang perlu belajar lebih komunikatif. Memberi kabar meski singkat. Mengingatkan bahwa aku sibuk, bukan menghilang. Itu tanggung jawabku.

Namun aku juga berharap ia melihat bahwa diamku bukan berarti tidak sayang. Fokusku bukan berarti menjauh. Kesibukanku bukan berarti mengabaikan.

Jika tudingannya lahir dari cinta, maka semoga cintanya juga tumbuh menjadi kepercayaan.
Karena tanpa kepercayaan, cinta mudah berubah menjadi kecurigaan.
Dan tanpa komunikasi, niat baik mudah disalahartikan.

Aku tidak ingin hubungan ini diisi oleh prasangka. Aku ingin diisi oleh pengertian.  Aku tidak pernah tidak peduli. Aku hanya terlalu fokus dan sedang belajar untuk lebih terbuka.

Dan mungkin, inilah pelajaran bagi kami berdua:
Bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling banyak menuntut, tetapi siapa yang paling mau saling memahami.


 

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

"Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di blog Mas Banjar!
Komentarmu jadi semangat baru untuk terus berbagi cerita dan inspirasi. 🙏😊"

Posting Komentar (0)